simple little things

simple, curious, nice, and i'm a dreamer. so?

when I call someone perfect, it doesn’t mean I think they have no flaws, it doesn’t mean I think they’re the most attractive person on the planet, it doesn’t mean I think they’ve never made any mistakes. when I call someone perfect, it means I love them wholly and entirely despite anything and everything, and that, to me, is perfect.

(Source: littlecolleenthings, via prisoner-serendipity)

Kejutan Kecil

07.00

Sore nanti kita berjanji untuk bertemu, aku akan menjemputmu di stasiun, kemudian kita akan makan seafood pinggir jalan kesukaan kita. Itu rencananya. Dua bulan aku menunggu kedatangan hari ini, dua bulan menahan rindu, dua bulan tanpa kamu. Keretamu akan tiba pukul empat sore nanti, tapi sepagi ini aku sudah bersiap diri untuk bertemu kamu. Mencari baju mana yang pantas digunakan untuk menyambutmu kali ini, aku selalu suka setiap kamu memuji kepiawaianku dalam memadupadankan pakaian yang aku kenakan, kamu bilang, semua yang aku pakai selalu menunjukkan kepribadianku. Baru saja aku terima sms darimu yang mengatakan bahwa keretamu sudah berangkat menuju Jakarta. Aku membalasnya dengan perasaan membuncah gembira. Hari ini benar-benar tiba!

 

10.00

Aku sedang membuat puding buah jeruk kesukaanmu. Aku menyiapkan kejutan kecil ini untukmu. Kamu selalu suka ketika aku memasak untukmu, semoga kali ini pun begitu. Kamu bilang, hari ini akan menjadi hari yang tidak biasa, kamu bilang kamu datang dengan kejutan. Aku semakin tak sabar menunggu pukul empat sore nanti.

 

13.00

Masih tiga jam lagi kamu tiba di stasiun, tetapi semua persiapanku untuk menyambutmu telah ku selesaikan dengan rapi. Baju yang ku pilih adalah terusan selutut dengan motif bunga-bunga kecil berwarna kuning lembut dan putih. Puding untukmu pun telah siap untuk kamu santap. Berkali-kali aku melirik jam, berharap waktu berputar lebih cepat.

 

15.00

Aku baru saja mengirimimu pesan singkat bahwa aku akan berangkat ke stasiun untuk menjemputmu. Kamu tidak membalasnya. Aku sungguh ingin bertemu denganmu segera. Di dalam perjalanan, aku bersenandung riang, menyanyikan lagu yang selalu kamu nyanyikan saat kita mengobrol di skype. “Dan lalu… Air mata tak mungkin lagi kini, bicara tentang rasa… Bawa aku pulang, rindu… Segera…”

 

17.00

Sudah lewat satu jam dari waktu kedatanganmu yang seharusnya. Aku berkali-kali mencoba menghubungimu lewat ponselku, tetapi kamu tidak menjawabnya. Aku kirimi banyak pesan singkat, satupun tidak kamu balas. Aku khawatir. Semoga kamu baik-baik saja. Berkali-kali aku melihat ke arah peron kedatangan keretamu, tapi tak kunjung ku lihat kehadirannya. Aku semakin cemas. Kamu tidak mungkin mengingkari janji kita untuk bertemu sore ini, ya kan? Akupun membunuh waktu dengan membuka account twitterku, membalas mention yang masuk sejak tadi pagi belum sempat ku balas, aku terlalu sibuk dengan persiapanku menyambutmu.

 

17.30

Aku sibuk me-refresh timelineku di twitter. Yang aku temukan justru menjawab apa yang sejak tadi aku tanyakan, keterlambatan kehadiranmu di sini, keterlambatan datangnya keretamu.

@detikdotcom: Kereta Fajar Utama Jogja-Jakarta alami kecelakaan di Cirebon, para korban sedang di evakuasi.

Tanpa sadar air mata membasahi pipiku. Mengingat pesan singkat terakhir dari mu. Aku kembali membaca pesan singkatmu tadi siang.

“Sayang, kamu nanti hati-hati ya, selalu jaga dirimu baik-baik. Semoga kejutan kecil nanti dariku tidak membuatmu kecewa. Sampai bertemu ya.”

Tak lama ponselku berdering, telepon dari nomor luar kota. “Dengan mbak Dira? Kami dari pihak rumah sakit umum kota Cirebon. Kami mendapat nomer mbak dari ponsel saudara Angga, nomor yang terakhir dihubungi adalah nomer mbak. Maaf mbak kami harus menyampaikan kabar duka, saudara Angga termasuk korban meninggal di kecelakaan kereta Fajar Utama siang ini, untuk pihak keluarga dimohon untuk segera mengurus kepulangan jenazahnya, terimakasih, selamat sore.”

Kamu bilang ini kejutan kecil? Aku terduduk lemas di stasiun. Aku terdiam lama, baru kemudian sanggup untuk menghubungi orangtuamu, aku berangkat menuju rumahmu. Menjemput ayah dan ibumu untuk berangkat ke Cirebon malam ini juga. Aku berharap esok pagi aku terbangun dan semua kejadian hari ini adalah mimpi.

#30HariLagukuBercerita Pulang by Float

Melepasmu

Seandainya dapatku melukiskan… Isi hatiku untukmu…

Seandainya kau pun harus tau… Lelah hatiku bila kau jauh…

Namun pendam rasa… Ku hanya ingin kau bahagia…

Jalani yang kau pilih… Jangan risaukan aku…

 

Damn! Dulu gue bener-bener gak percaya sama yang namanya LDR, ungkapan cinta tak harus memiliki lah, atau apalah itu, semuanya omong kosong buat gue. Yang namanya lo sayang, lo cinta sama seseorang, ya usaha lah biar bisa bahagia sama orang yang lo sayang, bukan ngebiarin orang yang lo sayang itu ngerasa lebih bahagia sama orang lain, kalo sampai kayak gitu kan berarti salahnya ada di diri lo nggak bisa ngejaga dan ngebahagiain pasangan lo, rite?

Tapi apa, nyatanya sekarang gue mesti ngalamin yang namanya “Cinta Tak Harus Memiliki” ah, crap! Yang lebih aneh lagi, gue turutin kemauan tuh cewek yang udah bikin gue cinta mati, geez… Gue aja sampe nggak percaya kalo barusan gue bisa ngomong dia itu cinta mati gue. Dia itu wanita pertama yang bisa bikin gue ngalah buat mundur teratur, ngejauh dari dia, dan ketika dia bilang dia gak bahagia pacaran sama gue, gue cuma bisa bilang maaf. Gila. Ini bener-bener bukan diri gue. Mana ada coba cowok nangis gara-gara denger lagu Percayalah – Ecoutez. Man, denger lagu-lagunya Ecoutez aja gue belum pernah, di Ipod gue itu isinya  Alesana, Burgerkill, The Black Dahlia Murder, dan band-band semacamnya. Sekarang gue abis ngapus air mata gara-gara dia nyuruh gue denger lagu Ecoutez, gak ada satu orang pun yang boleh tau, gak ada!

 

Percayalah kasih… Cinta tak harus memiliki…

Walau kau dengannya… Namun ku yakin hatimu untukku…

Percayalah kasih.. Cinta tak harus memiliki…

Walau kau coba lupakan aku… Tapi ku kan slalu ada untukmu…

 

Sebenernya gue tau Dis, gue tau lo bohong waktu lo bilang gak bahagia sama gue. Gue tau, gue liat mata lo waktu ngomong itu, dan lo nahan nangis kan waktu itu? Gadis… Gue juga tau, hati lo terlalu baik buat ngecewain kedua orang tua lo Dis… Harusnya dari awal gue ngaca, siapa diri gue berani ngedeketin lo, Dis. Cowok berandalan, itu kan sebutan ayah lo buat gue, Dis? Cowok berandalan ngarep sama anak konglomerat. Pernyataan itu udah berkali-kali gue denger Dis, tiap gue nganterin lo pulang naik motor gue. Tapi gue salut sama lo, Dis, seenggaknya lo pernah mau ngejalanin hidup sama gue. Hidup yang gak punya aturan, itu juga kata Ayah lo, ya kan? Tapi tau apa sih mereka, Dis? Tau apa mereka tentang usaha gue buat survive dengan hidup begini? Elo yang tau gimana usaha gue Dis, bukan mereka.

 

Seharusnya kau pun menyadari… Resah hatiku bila kau dengannya…

Seharusnya aku pun tak berharap… Miliki dirimu seutuhnya…

Namun ku pendam rasa… Ku hanya ingin kau bahagia…

Jalani yang kau pilih… Jangan risaukan aku…

 

Dan di akhir lagu ini, gue paham, Dis. Gue juga sekarang udah mulai bangkit, gue udah bisa nabung sedikit untuk buka usaha bengkel seperti apa yang selalu gue impikan itu Dis, lo inget kan? Dulu, cuma lo yang nggak ngetawain gue dengan mimpi gue itu Dis, semuanya bilang gak mungkin anak band underground kayak gue gini punya penghasilan buat usaha, Dis. Tapi gue udah buktiin, hasil manggung mondar-mandir gigs, gue tabung, gak gue pake buat minum, tapi masih minum sih, sesekali, my bad.

Semuanya tapi percuma Dis, sekarang udah terlambat, lo udah memilih buat membahagiakan orangtua lo dengan mengikuti keinginan mereka, menikah dengan anak rekan bisnis ayah lo. Gue di sini cuma bisa bilang, percayalah Dis, tapi ku kan slalu ada untukmu, kayak lirik lagu yang lo kasih buat gue.

Gue simpan dengan rapi CD lagu yang baru aja sukses bikin anak berandalan macem gue ini nangis. CD ini baru gue terima tadi pagi, lengkap dengan surat undangan pernikahan lo, Dis. Maaf, tapi gue gak akan hadir ke hari bahagia lo itu, but wait, are you really happy, my dear? Semoga lo udah siap buat menjalani kehidupan lo yang baru ya, Dis. Sekali lagi gue liat cover dari CD yang lo kasih buat gue Dis, dan di sana tertulis, “Be happy, Gas. Thanks for everything. Aku berharap kamu cepat menemukan kebahagiaanmu ya, Bagas. Sukses buat bengkelnya, aku selalu percaya kamu bisa! See you around! J”.


#30HariLagukuBercerita Ecoutez - Percayalah

Menghindari Kamu

“Killa! Ya ampun! Udah lama banget kita nggak ketemu, terakhir itu waktu kamu mau pindah ke Purworejo itu kan? Hey, look at you now…

Kamu memelukku. Pelukan erat seperti sahabat lama yang baru saja berjumpa lagi setelah sekian lama berpisah. Kamu masih sama. Masih Satya yang dulu. Yang dulu pernah memiliki hari-hariku. Aku tersenyum menyambut pelukmu.

“Iya… Kamu apa kabar? Kira-kira empat tahun kita nggak komunikasi sama sekali ya…”

“Kamu tuh, katanya mau kirimin aku surat biar aku tahu alamat rumah kamu di sana, tapi mana? Kamu hilang gitu aja hehe.” Tawa itu, tawa yang sangat aku kenal, dua tahun menjalin hubungan kasih membuatku tahu banyak tentang dia.

Dan sore itupun menjadi sesuatu kebetulan yang berharga. Tapi tunggu, Satya tidak pernah percaya kebetulan. Dia selalu berkata semuanya adalah garisan tangan Tuhan, Tuhan yang mau aku dan Satya kembali berjumpa sore itu. Empat tahun. Empat tahun aku dan Satya tidak berkomunikasi, dulu setelah kita memutuskan mengakhiri komitmen kita, kita masih bisa menjadi teman baik, sangat baik. Satya sudah seperti abangku sendiri saat itu.

It’s hard to remember how it felt before, now i found the love of my life…
Passes things get more comfortable, everything is going right…

Pertemuan ini membuatku tiba-tiba mengingat kembali kejadian awal aku memutuskan untuk tidak mengirimi Satya surat.

Purworejo, 1995

Kota ini memisahkan aku dari rutinitasku di Jakarta. Gak ada lagi teman-teman satu geng ku, gak ada lagi Satya. Ya, Satya. Agak berat mengaku kalau sesungguhnya aku masih memiliki perasaan padanya, bukan sayang seperti kakak-adik yang biasa aku dan Satya proklamirkan di depan teman-teman kami, ketika kami ditanya bagaimana mungkin setelah putus dari berpacaran, kami masih bisa berteman baik.

Aku berjanji akan mengirimi Satya surat agar dia tau dimana alamatku yang baru, dia bilang supaya kita tetap bisa saling berhubungan, dia pun berkemungkinan main ke rumahku disini. Ah, tapi ku pikir, ini saat yang tepat untuk memiliki kehidupan awal yang baru, aku harus belajar melupakan perasaanku terhadap Satya ini. Semoga di sana Satya dapat memahami tanpa aku harus bercerita. Semoga….

“Hey, hey… Killa, kok malah bengong? Kamu heran tentang aku yang masih ganteng padahal sudah jadi ayah dari satu jagoan kecil, atau kamu lg ada masalah sampe bengong begitu?”

“Oh, sorry sorry… Kamu tetep ya kegeeran!” Senyum kecil tersungging di wajahku.

“Hehe, terus nama putri kecil kamu siapa? Kapan-kapan kita harus hang out bareng nih, aku dan keluarga kecilku, kamu dan keluarga kecilmu. Harus ya Killa, harus…”

Sore itu aku dan Satya menghabiskan waktu dengan bercerita, berbagi pengalaman hidup. Aku akhirnya tahu, Satya sudah menikah, memiliki seorang anak laki-laki. Rasa itu telah hilang, perasaan ingin memiliki dan bersama Satya setiap waktu. Aku pun lega. Time will heals.

And after all the obstacles, it’s good to see you now with someone else…
And it’s such a miracle that you and me are still good friends…
After all that we’ve been through, i know we’re cool..

Aku pikir akan sulit memulai kembali hubungan dengan Satya, apalagi saat ini aku dan Satya sama-sama sudah tidak sendiri. Empat tahun aku menghindar dari Satya. Ternyata apa yang aku bayangkan sama sekali berbeda, ketakutan untuk berhubungan kembali dengan Satya karena beribu alasan yang tak masuk akal akhirnya terjawab ketika pertemuan pertama itu, dan aku melewatinya dengan baik-baik saja. Terlampau baik. Sangat jauh dari perkiraanku, yang aku duga, aku akan kembali merasakan perasaan sayang dan cintaku dulu terhadap Satya, hingga akhirnya akan merusak kehidupan keluarga kecilku yang nyaman karena perasaan lalu ku dengan Satya akan kembali aku rasakan kini. Aku takut Satya meminta penjelasan yang rumit dan pertanggungjawaban atas sikapku yang tidak dewasa waktu itu. Aku kira Satya telah melupakanku karena tingkahku dulu, sehingga aku pikir lebih baik untuk tidak mencoba untu menghubunginya ketika kembali ke Jakarta. Lagipula, aku belum siap untuk bertemu Satya ketika aku baru pindah ke Jakarta. Ah, memang aku tidak mau siap untuk bertemu Satya. Perasaanku dulu terhadap Satya sangat kuat dan dalam, aku tidak ingin apa yang aku miliki, dan apa yang tengah Satya jalani berubah ketika aku bertemu kembali dengannya. Aku takut. Aku terlalu pengecut untuk menghadapi apa yang semestinya dari dulu aku hadapi.

Ternyata semua perdebatan itu hanya ada dipikiranku, saat aku bertemu dengan Satya, hatiku tidak merasa apapun yang harus aku khawatirkan seperti apa yang aku sering pikirkan. Terkadang, berdamai dengan diri sendiri itu perlu, don’t push yourself too much, Killa…

We used to think it was impossible, now you call me by my new last name…
Memories seem like so long ago, time always kills the pain…

And now, here we are… Aku sedang mempersiapkan hidangan makan malam di ruang makan rumahku bersama Dian, istri dari Satya. Dari ruang tv terdengar gelak tawa bocah-bocah kecil calon kebangganku dan suamiku, serta calon kebanggan Satya dan Dian sedang bermain puzzle, dan Ayah dari anak-anak itu tengah sibuk berdiskusi mengenai pertandingan bola nanti malam yang akan kita tonton bersama. Kebahagiaan di keluarga kecilku hari ini ternyata sebagian diisi dari kepingan keindahan masa lalu ku.

Circles and triangles, and now we’re hangin’ out with your new girlfriend…
So far from where we’ve been, i know we’re cool…



#30HariLagukuBercerita Cool by Gwen Stefani


Saat kita dekat dengan seseorang, mungkin Tuhan sedang ingin memberkati orang itu melalui kita. Mungkin saat itu bukan giliran kita untuk diberkati dengan kedekatan itu. Mungkin orang itu sedang membutuhkan seseorang, dan menurut Tuhan orang itu adalah kita. Jadi jangan pernah merasa dimanfaatkan.

—*mengantri di depan gerbang kemurahan Tuhan* (via poeticonnie)